Oleh: kfcngalah | Januari 12, 2010

BUNG HATTA DAN PANCASILA

Pancasila terdiri dari 5 sila, atau sebenarnya boleh juga disebut dengan, kata seorang teman, pentasila, karena penta pun berarti 5. Tetapi tentu ini hanya untuk sekedar wacana verbal non-formal. Mengapa begitu? Karena penta adalah bahasa Yunani, untuk menyebut angka lima atau sebuah bidang geometris bersudut lima. Sementara itu sila adalah bahasa sansekerta. Jadi tidak klop. Akan konsisten kalau tetap disebut Panca, meskipun searti dengan penta. Lima sila Pancasila pada dasarnya tidak boleh dipahami secara terpisah-pisah atau sendiri-sendiri, sebab makna dari sila-sila itu akan menjadi bias dan justru akan menghilangkan makna sesungguhnya. Saya teringat dengan komen atau pernyataan Bung Hatta tentang Pancasila. Beliau mengatakan bahwa Pancasila itu seperti bilangan 10000. Sebuah bilangan yang terdiri dari 5 digit angka 1 dan 0, yang terangkai sehingga mempunyai nilai, yakni 10000. Tetapi, lanjut Bung Hatta, kalau angka 1 dihilangkan, sehingga tinggal 0000, angka ini menjadi deretan angka nol, yang tidak ada artinya. Apabila deretan angka nol ini ditambah lagi dengan 0 berapa pun banyaknya, tidak akan ada artinya lagi. Yang dimaksud angka 1 oleh Bung Hatta, adalah sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa. Dan sila kedua hingga kelima adalah angka 0 itu. Dalam pemahaman Bung Hatta seperti ini, memahami sila kedua hingga kelima tanpa memahami sila pertama, maka akan kehilangan makna sejatinya. Sila kedua Pancasila point pentingnya adalah tentang manusia, kemanusiaan dan makna menjadi manusia, serta hak-hak dan kewajiban azasi manusia. Sila ketiga Pancasila point pentingnya adalah tentang kesatuan, persatuan, dan relasi (yang mutualistik) antara manusia dan alam (di persada nusantara). Sila keempat Pancasila point pentingnya adalah tentang proses demokrasi (kerakyatan), hikmah, kebenaran, dan musyawarah. Sila kelima Pancasila point pentingnya adalah keadilan, keseimbangan, dan kesetaraan, baik secara politik, sosial, ekonomi, maupun hukum. Kalau kita mencermati point-point penting dari sila kedua hingga kelima dari Pancasila, kita akan melihat itu sebagai sesuatu yang amat indah, dan merupakan isyu-isyu penting dunia. Orang tidak bisa membantah hal ini. Kita pun bisa melompat untuk langsung masuk ke materi-materi dari point-point penting dalam sila-sila Pancasila itu. Tetapi dalam perspektif Bung Hatta, hal semacam ini justru akan menghilangkan makna sejatinya atau kita akan menuju pada kehampaan apabila kita tidak memahami sila pertama Pancasila. Dalam perspektif Bung Hatta ini, banyak orang yang berpandangan bahwa Pancasila adalah kumpulan nilai-nilai yang tidak jelas, menjadi terbantahkan. Bahkan pandangan yang menyatakan bahwa sila pertama dianggap sebagai membawa-bawa Tuhan dalam negara, sesuatu yang dianggap tidak singkron, juga merupakan pernyataan yang amat naif dan nampak tidak mengerti. Bung Hatta jelas mengatakan bahwa yang utama dari Pancasila adalah sila pertama, karena justru dengan sila pertama itu, sila-sila yang lain mendapatkan makna-makna sejatinya. Mengapa demikian? Coba Anda perhatikan bunyi sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa. Mengapa tidak ditulis dengan Tuhan Yang Mahaesa? Sila pertama Pancasila ini banyak disalah-pahami atau dipahami secara simplistik. Ada yang mengatakan dengan sila pertama itu memberikan petunjuk tentang bentuk pengakuan bangsa Indonesia kepada Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa sila pertama itu merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama (religius) dan bertuhan. Yang skeptis, mengatakan sebaliknya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ambigu, tidak jelas, karena memasukkan sesuatu yang gak jelas dalam konteks negara. Bahkan menganjurkan agar Indonesia mestinya harus tegas untuk memisahkan soal Tuhan dan negara atau agama dan negara. Artinya Indonesia harus menganut sekularisme dan Indonesia harus menjadi negara sekuler kalau ingin maju atau ingin lebih sejahtera karena sebuah survey menunjukkan negara yang menganut sekularisme ternyata lebih sejahtera! Apakah benar harus demikian? Dalam perspektif Bung Hatta tentu saja jelas salah. Kembali ke bunyi sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa yang tidak ditulis dengan Tuhan Yang Mahaesa. Sepatutnya kita bertanya apa arti Ketuhanan Yang Mahaesa itu. Ketuhanan memiliki akar kata Tuhan. Kita bisa berdebat dengan kata Tuhan ini dari mana asalnya, tetapi bukan disini tempatnya berdebat soal itu. Kita perlu sepakati bahwa yang dimaksud dengan Tuhan adalah Supreme Power yang menguasai hidup, membuat hidup, dan menciptakan hidup. Lalu apa makna Ketuhanan, yakni kata Tuhan yang diberi imbuhan ke – an, sehingga membentuk Ketuhanan? Sebenarnya kita mudah sekali memahami makna kata ini, yakni hal-hal yang terkait dengan Tuhan. Sama dengan apabila Anda tahu kata biasa yang kemudian diberi imbuhan ke-an, maka menjadi kata baru kebiasaan yang berarti hal-hal yang biasa, sesuatu yang sudah maklum, diketahui oleh semua, dan karenanya orang mafhum. Nah, ketuhanan adalah hal-hal yang terkait dengan Tuhan. Apa itu? Yaitu Nama-nama, Sifat-sifat dan Perbuatan-perbuatan (Af’al) Tuhan, yang bersifat manunggal. Artinya antara nama, sifat dan perbuatan adalah satu. Apabila Tuhan memiliki nama Yang Mahaadil (AlAdl), maka sifat dan perbuatannya juga Mahaadil. Tidak mungkin (mustahil) bagi Tuhan, namanya Mahaadil, sifat dan perbuatannya tidak Mahaadil. Kita tahu bahwa Tuhan itu adalah Mahapemberi rejeki (Ar Razak), Mahapengasih-penyayang (ArRahman-ArRahim), Mahakuasa (Al Qowiyu), Mahamenghakimi (Al Hukm), dan banyak lagi yang lain. Jadi kalau kita cermati betul, perumus Pancasila itu sungguh amat arif, cerdas dan brilyan. Pancasila tidak menyebut Tuhan tetapi Ketuhanan, yakni Nama-nama, Sifat-sifat, dan Perbuatan-perbuatan Tuhan. Karena tidak menyebut Tuhan, maka kita terhindar dari berdebatan ini Tuhan siapa, itu Tuhan siapa. Tetapi kita membicarakan Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan. Dan semua agama mengajarkan Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan ini, dan yang menjadi lebih indah adalah bahwa Nama-nama atau Sifat-sifat Tuhan yang ada atau diajarkan di semua agama yang ada memiliki makna atau arti yang sama. Bermula dari Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan itulah kita mendapatkan makna-makna derivatif (turunan) sebagaimana kita bisa peroleh di dalam sila-sila Pancasila itu. Artinya sila pertama Pancasila adalah nilai sumber, atau paradigma dimana makna-makna derivatifnya berakar. Itulah sebabnya Bung Hatta berkata bahwa sila kedua hingga kelima akan kehilangan maknanya apabila tidak berakar pada sila pertama. Demikian pula dengan perspektif Bung Hatta ini, kita pun bisa memahami mengapa dalam Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945 ditulis Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Mahaesa. Ayat ini bukanlah sebuah pernyataan simplistik yang menyatakan bahwa negara melindungi semua agama. Itu sudah dengan sendirinya. Makna yang benar adalah bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara yang mengemban esensi yang terkandung di dalam Ketuhanan (Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan) itu. Satu contoh, Tuhan adalah Mahapemberi rejeki, yang membawa kita pada pengertian yang mudah sekali dipahami mengapa sebuah negara harus mengatur atau mengelola aspek-aspek ekonomi untuk kesejahteraan rakyatnya, dan tidak melepas bebas seperti halnya ekonomi liberal. Dalam perspektif ini pula kita bisa membuat daftar deretan Nama-nama Tuhan yang harusnya diemban oleh negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya negara harusnya mengemban esensi-esesni ketuhanan ini. Jadi, dalam hal ini Bung Hatta sangat brilyan dalam menjelaskan makna di balik Pancasila. Dan itulah sesungguhnya Indonesia dengan Pancasilanya. Mengapa ya masih banyak orang yang meributkan Pancasila bahkan ingin menggantinya? Pancasilanya yang salah atau orangnya yang tidak mengerti hakekat Pancasila? Bagaimana menurut Anda?

Oleh: kfcngalah | Desember 29, 2009

Tentang pacar itu gi mana devinisinya ?

Pacar itu adalah seseorang yang spesial.
Pacar itu lebih dari sahabat.
Pacar itu calon pendamping hidup kita.
Pacar itu orang yang sayang kepada kita kita di saat kita sedih atau senang, menerima apapun yang kita punya dan apapun yang kita lakukan.
Namun pengamatan saya, pacaran adalah aktifitas menumpahkan rasa suka dan sayang kepada lawan jenis.
Kalau sudah sampai ke aktfitas, sekarang tinggal pengendalian diri.
Agar pacaran kia aman dan awet, kita harus punya prinsip. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan ada dasar dan tujuan yang jelas.
Pacaran adalah bercintaan dengan kekasih atau teman lawan jenis yang tetap. Singkatnya adalah bercintaan dengan kekasih tetap.
Keistmewaah dari pacar antara lain:
Bisa bantu kita kalau ada apa – apa.
Pacar bisa buat kita senang, tidak bosen dan bisa buat kita melatih diri buat sayang seseorang.
Bisa memperhatikan kita sehingga kita tidak merasa kesepian.
Apa sih enaknya punya pacar ?
Enaknya punya pacar ada yang memperhatikan, ada motvasi buat belajar, demi pacar, bisa membangun hubungan yang erat, dan tidak terkalahkan apapun.
Kita bisa curhat masalah kita dan dia bisa bantu menyelesaikan.
Tapi untuk saya, saya belum pernah pacaran, tapi bisa lihat dari pengalaman temen – temenku.
Yang namanya pacaran pasti ada efeknya dengan kehidupan kita. Bisa positf, bisa juga negatif. Tergantung kita yang melakukannya.
Namun, dalam penjelasan saya, definisi pokok adalah bahwa pacaran adalah proses awal untuk mengenal sebelum munuju pernikahan, juga tidak semuanya benar, pacaran niati untuk nikah.
Untuk menjawabnya antara lain :
Pacaran adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih.
Berpacaran adalah bercintaan , berkasih – kashan (dengan sang kekasih).
Memacari adalah mengencani atau menjadkan da sebagai pacar.
Sementara kencan sendiri adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah di tetapkan bersama.
Dengan demikian, hubungan yang “tetap” itu dapat di ciptakan dengan ikatan janji atau komitmen untuk menjalin kebersamaan, berdasarkan cinta kasih.
Kebersamaan yang di sepakati itu bisa berujud apa saja.
Dengan demikian, yang tidak di niatkan untuk nikah masih bisa di katakan pacaran. Bahkan, “hidup bersama tanpa nikah” pun bisa di sebut “pacaran” (tetap bukan “pacaran islami”)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori