Oleh: kfcngalah | Maret 29, 2009

Bunga Kepemimpinan

Secara mendasar kepemimpinan sebenarnya dibagi menjadi dua wilayah:

1. Kepemimpinan Personal
Kepemimpinan terhadap diri sendiri, secara otomatis setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya masing-masing, dari sini kita akan dituntut untuk mengenal diri kita sendiri
2. Kepemimpinan Institusional
Merupakan Kepemimpinan dalam domain yang lebih luas, Kepemimpinan individu terhadap individu-individu yang lain dalam suatu institusi (organisasi). Dalam konteks ini kita dipaksa untuk selain memahami diri sendiri juga harus bisa memahami orang lain.

Dalam kesempatan ini kita akan lebih mengulas pada wilayah kepemimpinan institusional, karena kita sedang berada dalam suasana organisasi dan biarkan kepemimpinan personal menjadi urusan mereka yang lebih matang dalam perfect wisdom.

Dalam wilayah kepemimpinan institusional, Kepemimpinan sering didefinisikan sebagai suatu proses untuk menggerakkan sekumpulan manusia menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan dengan memotivasi mereka dengan suatu cara yang tidak memaksa. Kepemimpinan yang baik menggerakkan manusia untuk memenuhi rencana jangka panjang.

Selain definisi di atas ada yang secara simbolik menyampaikan bahwa seorang pemimpin adalah ”sekuntum bunga”. Bunga yang selalu diam, tidak pernah minta dipuji, tidak pernah berisik, namun selalu berbuat. Menebarkan keindahan dan keharumanya, memberikan sumbangsih terhadap manis dan segarnya madu di tempat manapun dan di waktu kapanpun.

Hal ini memang mengundang banyak penafsiran, namun tetap ada batasnya. Angka-angka dan kualitas kinerja itulah batas-batas dari tindakan yang diam. Tindakan yang diam tidak serta merta mengundang tepuk tangan segera. Apa lagi tindakan melalui pengorbanan , ia bisa membuat kepala terinjak-injak kaki orang lain. harga diri, reputasi dan gengsi adalah serangkaian hal yang bisa terkorbankan. Namun seperti halnya bunga yang tidak pernah minta dipuji ataupun takut dimaki, ia senantiasa bertindak, bertindak dan bertindak tanpa mengenal ruang dan waktu, ada saja bunga yang selalu menghadirkan keharumanya.

Banyak pemimpin dunia yang setidaknya memiliki kesamaan dengan filosofi bunga ini. Ada pemimpin yang setelah bunganya layu menghadirkan bau busuk. Ada pemimpin yang setelah layu, harumnya bahkan merebak hampir sepanjang sejarah manusia. Coba kita tengok kepemimpinan Salahuddin Al-Ayyubi, Gandhi, Che Guevarra, Sukarno, Hatta, Ibu Teressa dan beberapa pemimpin dunia lainya. Yang tampak jelas mereka masih saja dipuji meskipun telah lama mangkat dan melepas darmanya.

Secara mendasar kepemimpinan memiliki tiga fungsi utama: Fine Tuning, Visioning dan Future Creation. Pada fungsi pertama (fine tuning) seorang pemimpin harus mampu mencari solusi permasalahan dan menjadi perekat serta pemersatu organisasi. Di dalam fungsi ke dua(visioning) Pemimpin harus menjadi orang paling depan lengkap dengan gambaranya tentang masa depan. Dan pada fungsi yang ke tiga (future creation) seorang pemimpin melalui keputusan-keputusanya ia sedang menciptakan masa depan bagi banyak orang.

I. Kepemimpinan yang efektif
a. Apa kepemimpinan yang efektif?
Kepemimpinan yang efektif adalah suatu proses dinamis untuk selalu menciptakan wawasan, mengembangkan suatu strategi, membangun kerja sama dan mendorong tindakan produktif. Pemimpin yang efektif :

  • Menciptakan wawasan untuk masa depan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang kelompok yang terlibat.
  • Mengembangkan strategi yang rasional untuk menuju ke arah wawasan tersebut.
  • Memperoleh dukungan dari pusat kekuasaan yang kerja sama, persetujuan, kerelaan atau kelompok kerjanya dibutuhkan dibutuhkan gerakan itu.
  • Memberikan motivasi yang kuat kepada kelompok inti yang tindakannya merupakan penentu untuk melaksanakan strategi.

II. Kepemimpinan dalam pelaksanaan

a. Jenis-jenis kepemimpinan

1. Otokrasi

  • Kurang mempercayai anggota kelompoknya
  • Hanya mempercayai bahwa imbalan materi sajalah yang mendorong orang untuk bertindak
  • Perintah yang dikeluarkan harus dilaksanakan tanpa pertanyaan

2. Demokrasi

  • Membuat keputusan bersama-sama dengan anggota kelompok
  • Menerangkan sebab-sebab keputusan yang dibuat sendiri kepada kelompok
  • Menyampaikan kritikan dan pujian secara obyektif

3. Lemah

  • Tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya.
  • Tidak menetapkan tujuan untuk kelompok.
  • Memperkecil komunikasi dan hubungan kelompok

b. Kiat sukses dan Strategi dalam kepemimpinan

  1. Mampu beradaptasi: Kalau seorang pemimpin tidak bisa merubah diri, bisa-bisa bawahan yang akan merubah anda.
  2. Mampu berkolaborasi: Bekerja bersama-sama mendahului maju bersama-sama.
  3. Berkomitmen: Tidak ada juara yang setengah hati.
  4. Mampu berkomunikasi: Sebuah tim adalah banyak suara tetapi satu hati
  5. Dapat diandalkan: Semua tim memilih orang-orang yang dapat diandalkan di berbagai lini sesuai skillnya.
  6. Sadar akan visi dan misi: Gambaran (besar) nya tampak sangat jelas.
  7. Mau memperbaiki diri: Untuk memperbaiki tim, perbaikilah diri sendiri.
  8. Ulet: Jangan pernah menyerah

Kritik Kepemimpinan di PMII Pasuruan:

Penulis memandang kepemimpinan di organisasi seperti PMII tidak hanya milik ketua umum cabang dan ketua-ketua komisariat, maka kritik penulis ditujukan lebih luas kepada kader kader yang pernah menjadi pemimpin di tim sekecil apapun di dalam PMII Pasuruan apakah itu Ketua umum cabang, ketua-ketua komisariat sampai yang terkecil koordinator departemen bahkan sampai ketua panitia ataupun koordinator seksi di suatu kepanitiaan. Apalagi persoalan krisis kepemimpinan adalah persoalan seluruh kader organisasi, maka penulis pikir tidak ada satupun bagian dari PMII Pasuruan yang tidak punya kepentingan dengan kritik penulis.

Potensi lokalitas PMII Pasuruan secara kompleks menyangkut typologi kader dan lingkungan eksternal (kondisi sosoial, budaya, ekonomi, politik) ternyata sampai hari ini, belum mampu di jawab oleh satu sistim (Kaderisasi formal,informal, dan nonformal) di PMII pasuruan, sehingga dapat diantisipasi terjadinya krisis kepemimpinan.

Pada tingkatan pengkaderan formal harus segera dapat terumuskan satu sistem kaderisasi formal yang compatible dengan kondisi kader PMII Pasuruan. Kader yang hanya banyak pada waktu Mapaba, bahkan ada banyak peserta Mapaba yang tidak dapat mengikuti Mapaba secara penuh. Kader yang “terpaksa prematur” menjadi pengurus komisariat ataupun cabang.

Selanjutnya Lingkungan atau kondisi internal PMII Pasuruan harus mampu di dorong, sehingga tercipta satu kondisi yang dapat mewujudkan satu sistem pengkaderan informal dan non formal yang sangat progresif, sehingga persoalan krisis komitmen dan militansi kader tidak lagi hanya menjadi sampah dan kotoran, tetapi sampah dan kotoran tersebut telah mampu kita olah sehingga menjadi pupuk yang sangat bagus untuk pertumbuhan bunga PMII Pasuruan kita.

Dan upaya mendesak yang harus dilakukan adalah penggarapan aparatur komisariat maupun cabang, terutama pada wilayah kemampuan visioning. Kemampuan dimana seorang pengurus harus mengerti hal-hal apa yang harus dilakukan dan dicapai ke depan, karena bukan lagi menjadi rahasia, bahwa karena “keterpaksaan prematur” banyak pengurus baik di level cabang maupun komisariat yang buta terhadap tugas dan kewajiban yang seharusnya dia laksanakan sebagai seorang pengurus.

by : J. Lutfi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: