Oleh: kfcngalah | Maret 30, 2009

Ketika Tawakal Salah Dipahami

Bismillah,

Tawakal adalah sebuah kata yang cukup akrab di telinga kita, terutama karena tawakal ini cukup sering dilontarkan para khatib Jum’at adalah khutbah2 mereka. Bahkan, tawakal sudah menjadi kosa kata dalam percakapan sehari-hari.

“Sudah bu, tawakal saja…”
“Yg tawakal ya pak?”
*dan masih banyak percakapan sejenis lainnya*

Sebenarnya, apakah tawakal itu? Jangan-jangan pemahaman tawakal kita selama ini salah karena kita cenderung mencari mudahnya saja ? Atau malahan kita sama sekali tidak mengerti apa itu tawakal ?
Tawakal, berdasar penuturan Rasululloh SAW, adalah BERSERAH DIRI KEPADA ALLOH SWT SETELAH SEBELUMNYA BERIKHTIAR DAN BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN.

Sebuah kisah yg menunjukkan arti tawakal, saya cukil dari sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban. Seorang sahabat hendak beribadah, namun tidak mengikat untanya. Ketika Rasululloh SAW menegurnya, sang sahabat menjawab bahwa dia bertawakal kepada ALLOH SWT. Lantaran jawaban itu, Rasululloh SAW menjawab,”IKATLAH unta itu, baru bertawakal kepada ALLOH SWT.”

Tawakal semodel ini berarti tawakal yg mempunyai hubungan sebab akibat.
Sementara itu, ada juga tawakal ‘jenis’ lain, yakni kebalikan tawakal di atas, tawakal tanpa sebab akibat. Contoh dari tawakal ini adalah kematian atau musibah.

Untuk tawakal jenis kedua, tentu saja kita tidak bisa menghindar atau menyalahkan orang lain ( apalagi kepada ALLOH SWT ) atas kejadian yang kita alami. Terlebih misalnya, rumah kita kebakaran akibat kecerobohan tetangga kita. Di saat seperti inilah, tawakal mesti dilakukan.

Ucapkan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” disertai dengan penghayatan yang sungguh2 sehingga keikhlasan akan menyelimuti batin kita.

Celakanya, masyarakat kita cenderung salah memahami tawakal.  Tawakal yang seharusnya terkait sebab akibat dianggap sebagai tanpa sebab akibat.

Akibatnya jelas, masyarakat kita mempunyai mental yang parah.

Contoh dari salah memahami tawakal :

“Ah, saya sudah miskin…tawakal saja saya sih.”
“Besok saja hendak ujian nih.”
“Sudah belajar?”
“Tidak…saya kan tawakal kepada ALLOH SWT.”
“Pak, kita punya hutang. Kapan kita mau bayar?”
“Sebentar…saya hendak berdoa kepada ALLOH SWT dulu. Minta petunjuk.”
*usai berdoa*
“Bagaimana pak, kapan kita lunasi hutang?”
“Saya bertawakal saja kepada ALLOH SWT.”
“Lho, jadi ga kerja cari uang?”
“Lha, saya kan sudah bertawakal?”

Demikianlah secuplik dialog yg terjadi di masyarakat kita. Anda mungkin tahu dialog2 di atas, baik yg mirip ataupun bahkan sama persis. Atau barangkali anda sendiri termasuk di antaranya?

Saudara-saudaraku, kesalahan memahami tawakal seperti yg terjadi di atas itu, yang membuat kita tidak pernah bisa maju. Padahal masyarakat muslim merupakan mayoritas di negeri ini, padahal Islam mengajarkan kemajuan (progresivitas), namun itu semua tidak nampak dan seakan tidak pernah ada.

Lantas, apa yg mesti kita lakukan?

Pertama, apabila ada suatu persoalan, kita cermati dahulu. Apakah persoalan ini termasuk yang ada sebab akibat, ataukah memang yg benar2 tidak ada kaitan sebab akibat ?

Kedua, jika memang termasuk persoalan tanpa sebab akibat, maka sudah selayaknya kita benar2 berserah kepada ALLOH SWT. Sebaliknya, jika persoalannya adalah persoalan ‘duniawi’, maka KITA WAJIB BERIKHTIAR.

Ketiga, selama kita berikhtiar, iringi ikhtiar kita dengan doa. Panjatkan doa-doa yg menunjang. Misalnya kita berikhtiar mencari rejeki, maka iringi dengan doa minta rejeki yang halal dan banyak. Jika ikhtiar mendapatkan keturunan, maka perbanyak doa Nabi Zakaria as dan Nabi Ibrahim as, selain berusaha dengan melakukan hubungan suami istri dengan sehat.

Keempat, yang terakhir, setelah poin 1-3 sudah kita kerjakan, nah…barulah kita bertawakal. Serahkan semuanya pada ALLOH SWT. Karena DIA-lah yang berhak menentukan apakah semua ikhtiar dan doa kita akan dikabulkan. Jika belum dikabul, jangan menyerah untuk berdoa, karena doa merupakan salah satu senjata kaum Muslim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: