Oleh: kfcngalah | April 3, 2009

PENGARUH/PERAN PERS, MENJELANG PEMILU WALIKOTA BOGOR 2008(*)

PERS DAN FUNGSINYA

Tanggal 9 Februari 2008, pers nasional bertambah satu tahun usia. Sejauh mana pengaruh/peran pers menjelang pemilu walikota Bogor 2008 ini sudah diakui berbagai pihak. Keti+a SBY-MJK memenangkan Pilpres 2004, kontribusi pers cukup besar. Hasil survei lembaga independen mencatat peran media televisi 35%, sementara media cetak 27%. Karena di kota Bogor tak ada stasiun televisi, maka peran media cetak jelas sangat berpengaruh. Walaupun belum ada satu lembaga survei di Kota Bogor yang melakukan penelitian tentang seberapa besarnya pengaruh pers (dalam hal ini media cetak), namun sudah bisa diprediksi seberapa besar kontribusi media cetak dalam memenangkan pasangan calon walikota Bogor.

Pers menurut UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Artinya termasuk media online.

Wartawan me$ia online di DPR/MPR bisa meliput kegiatan parlemen, nomor buktinya berupa print out naskah/berita dalam media online tersebut. Seperti media online Bogor News di kota Bogor ini.

Fungsi pers nasional itu selain sebagai media informasi, kontrol sosial dan hiburan, maka ada fungsi pendidikan yang tak kalah penting. Fungsi pendidikan inilah yang kurang mendapat perhatian unsur pers itu sendiri. Misalnya, bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD, supaya kritik d!pat dilakukan secara santun.
Selain empat fungsi sebagaimana dijelaskan diatas, pers dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Dengan demikian, pers merupakan salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sehingga pers berfungsi maksimal.

Fungsi maksimal itu diperlukan karena kemerdekaan pers adalah salah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Makanya, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyampaikan gagasan dan informasi karena dalam mempertanggung jawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.

PERAN SERTA MASYARAKAT

Tapi dilain pihak, masyarakat juga dibutuhkan peran sertanya berupa : memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan pers. Dengan kata lain, masyarakat juga harus berpartisipasi dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang. Oleh karena itu, dituntut pers yang profesional dan terbuka dikontrol oleh masyarakat.
Kontrol masyarakat dimaksud antara lain : oleh setiap orang dengan dijaminnya hak jawab dan hak koreksi, oleh lembaga lembaga kemasyarakatan seperti pemantau media (media watch) dan oleh Dewan Pers.

PENGARUH/PERAN PERS MENJELANG PEMILU WALIKOTA BOGOR

Menyimak tentang fungsi dan peranan pers sebagaimana diuraikan diatas, maka tak dapat disangkal bahwa pers mampu menciptakan public opinion (opini publik) menjelang Pemilu Wolikota Bogor, Desember 2008. Pengaruhnya sangat kuat. Laporan, tulisan maupun berita pers dapat mempengaruhi sikap para pemilih yang tadinya tidak mendukung menjadi mendukung, dan sebaliknya.

Opini publik it5 bukan sekedar mempromosikan nama figur calon walikota yang bakal diusul oleh partai politik atau gabungan partai politik untuk memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% dari jumlah kursi DPRD atau dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilu anggota DPRD didaerah yang bersangkutan.

Akan tetapi, opini publik yang diciptakan harus menjelaskan tentang siapa sebenarnya calon-calon walikota Bogor yang diusulkan. Latar belakang sang calon, misalnya. Bukan saja pendidikan formalnya, t!pi visi dan misinya juga. Begitu pula kemampuan individunya maupun gagasan-gasanannya untuk membangun warga kota menuju kesejahteraan, bukan membangun fisik kota saja.

Bahkan pers harus mengekspos tentang bobot kualitas para calon walikota disatu sisi, sementara disisi lain pers diminta ikut bertanggung jawab meningkatkan pula kualitas pemilih warga kota. Sebab, apabila kualitas pemilih warga kota Bogor itu meningkat, maka dapat dipastikan munculnya konflik horizontal antar para pendukung sebe,um ataupun sesudah berlangsungnya pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah sangat tipis terjadi. Untuk itu, para calon pemilih harus memahami betul tahapan-tahapan pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah Desember 2008 mendatang, serta hak dan kewajibannya agar pesta rakyat itu dapat terselenggara secara jujur dan adil.

Dalam konteks ini, tugas pers untuk menjaga stabilitas politik sangat penting artinya. Dan tak ada salahnya apabila dipandang perlu KPU Kota Bogor sebagai penyelenggara pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah melakukan penataran bagi unsur pers yang akan melakukan tugas peliputan.

Lepas dari penataran serupa dilakukan juga oleh perusahaan penerbitan pers masing-masing. Berdasarkan pengalaman, setiap penerbitan pers sudah memiliki konsep yang baku menjelang pilkada di suatu daerah, karena secara teknis KPU sendiri punya aturan main tentang pengaturan pemasangan iklan maupun advertorial.

PEMBANGUNAN MANUSIA

Saat ini, sudah banyak nama calon walikota bermunculan. Hanya saja masyarakat belum mengenal secara individual para calon dimaksud, oleh karena pers tidak banyak mengungkapkan siapa sebenarnya para calon tersebut.

Kecuali calon dari unsur birokrat. Calon birokrat lebih mudah dikenal publik sebab mereka adalah penyelenggara pemerintahan. Misalnya saja H. Diani Budiarto Walikota Bogor masa jabatan 2004-2009 dan H.Dody Rosadi Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Bogor. Dari aspek kompetens) keduanya sudah terpenuhi, begitu pula kapabilitas maupun popularitasnya.

Kinerja kedua pejabat birokrat ini sudah dikenal luas, baik karir dibidang pemerintahan termasuk apa yang sudah dikerjakannya. Empat program prioritas ; penataan transportasi, PKL, kebersihan, dan kemiskinan dinilai berhasil, namun perlu ditindaklanjuti penanganannya. Oleh karena itu, kepemimpinan incumbent harus dipertahankan. Selama menjabat, baik Diani maupun Dody, warga kota dapat menilai secara obyektif keterlibatannya dalam proses pembangunan yang sudah terwujud, dalam tahapan pelaksanaan atau pun yang sudah masuk proram prioritas.

Besarnya perhatian terhadap keluarga miskin sudah tercermin dalam tahun anggaran 2007. Antara lain, gagasan tentang sekolah dasar gratis (SD/MI) yang sudah mulai direalisasi. Untuk itu, program sekolah gratis demi meningkatkan harkat dan martabat kaum miskin (pembangunan manusia) patut mendapat dukungan semua pihak. Karena dengan biaya Rp 14 milyar lebih, sekitar 52.000,- sis7a warga miskin dapat mengikuti pendidikan dasar.

Karya besar unsur birokrat seperti inilah yang populer dimata warga kota Bogor. Sementara, figur-figur calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dari unsur partai politik hanya dikenal setelah melaksanakan program-program partai yang bersifat temporer. Contohnya, jika terjadi bencana alam

PERS MASIH SULIT BERSIKAP OBYEKTIF

Menghadapi pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah tahun 2008 ini, rasanya masih sulit untuk mengharapkan pers bersikap obyektif. Karena sikap keberpihakan kepada salah satu pasangan calon akan tetap terbaca, sehingga sulit bagi pers dapat menjaga obyektifitasnya. Makanya, pers harus terus dipantau agar bersikap obyektif. Dengan demikian, peran media watch harus terus ditingkatkan.

Salah satu indikatornya bahwa pers masih berpihak, terbukti pada berita-berita pers tentang pilpres tahun 2004. Bagaimana pasangan Megawati Soekarno Putri – Hasyim Muzadi (Mega – Hasyim) kurang mendapat porsi pemberitaan pers yang memadai jika dibandingkan dengan pasangan calon pilpres Susilo Bambang Yudhoyono – Moh Jusuf Kalla (SBY-MJK).

Begitu kuat dukungan pers terhadap pasangan SBY-MJK, sehingga opini yang tercipta mengalahkan pengaruh seorang Presiden Megawati Soekarno Putri yang sedang berkuasa selama tiga tahun, berpasangan dengan seorang tokoh besar agama Islam K.H. Hasyim Muzadi.

(*) Ditulis oleh Stefanus Seimahuira, DIREKTUR EKSEK UTIF TAHISANE MEDIA WATCH
Link:  http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3960&Itemid=101

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: