Oleh: kfcngalah | Oktober 22, 2009

IDEOLOGI PANCASILA TERLINDAS GLOBALISASI (bag II )

Dalam pandangan pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir pada panel diskusi Keberadaan Pancasila dalam Dinamika Politik Kekinian di Indonesia di Gedung DPR, Senin (26/5), rongrongan dari dalam negeri maupun pihak asing terhadap Pancasila terjadi sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Dalam kaset pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1951 yang ditemukan Revrisond tanpa sengaja di pasar loak, Bung Karno mengungkapkan rongrongan tersebut. Salah satunya adalah perjanjian Konferensi Meja Bundar untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia namun dengan Dalam kaset pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1951 yang ditemukan Revrisond tanpa sengaja di pasar loak, Bung Karno mengungkapkan rongrongan tersebut. Salah satunya adalah perjanjian Konferensi Meja Bundar untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia namun dengan syarat kita harus mewarisi utang-utang pemerintah kolonial Belanda.
Padahal kita ingat bagaimana Bung Karno dengan gegap gempita menegaskan ever onward never retreat untuk menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi ini. Sejak 1966, menurut Revrisond, pemerintah Indonesia sesungguhnya merupakan boneka bagi kepentingan negara kapitalis dan neoliberalisme. Indonesia kemudian bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan mendirikan Inter-Governmental Group Padahal kita ingat bagaimana Bung Karno dengan gegap gempita menegaskan ever onward never retreat untuk menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi ini. Sejak 1966, menurut Revrisond, pemerintah Indonesia sesungguhnya merupakan boneka bagi kepentingan negara kapitalis dan neoliberalisme. Indonesia kemudian bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan mendirikan Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), bahkan mengangkat Belanda sebagai ketuanya.
Akibatnya, Pancasila dirongrong terus oleh banyak penguasa sejak masa Orde Baru hingga kini. Pancasila hanya sebagai status simbol dan pajangan, sama seperti gambar Garuda Pancasila yang dipasang di setiap kantor pemerintah. Resistensi terhadap Pancasila paling fatal terjadi dalam kebijakan ekonomi yang lebih bercorak neoliberal ketimbang Akibatnya, Pancasila dirongrong terus oleh banyak penguasa sejak masa Orde Baru hingga kini. Pancasila hanya sebagai status simbol dan pajangan, sama seperti gambar Garuda Pancasila yang dipasang di setiap kantor pemerintah. Resistensi terhadap Pancasila paling fatal terjadi dalam kebijakan ekonomi yang lebih bercorak neoliberal ketimbang ekonomi Pancasila yang bercorak kerakyatan dan keadilan sosial.

Ekonomi neoliberal tampak nyata dengan merekayasa semua harga agar berlangsung sesuai mekanisme pasar bebas, termasuk dalam hal harga minyak. Harga minyak kita disesuaikan harga internasional. Padahal, penghasilan/gaji kita jauh di bawah rata-rata penghasilan warga di Singapura, Malaysia, apalagi di negara-negara maju. Kebijakan kenaikan harga BBM 24 Mei 2008, menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), justru akan mengerek angka kemiskinan Ekonomi neoliberal tampak nyata dengan merekayasa semua harga agar berlangsung sesuai mekanisme pasar bebas, termasuk dalam hal harga minyak. Harga minyak kita disesuaikan harga internasional. Padahal, penghasilan/gaji kita jauh di bawah rata-rata penghasilan warga di Singapura, Malaysia, apalagi di negara-negara maju. Kebijakan kenaikan harga BBM 24 Mei 2008, menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), justru akan mengerek angka kemiskinan dari 37,2 juta jiwa menjadi 41,7 jiwa penduduk Indonesia.
Jika pemerintah menerapkan ekonomi Pancasila, mestinya sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia-lah yang menjadi pertimbangan utama dalam mengambil kebijakan politik-ekonomi untuk menyolusi berbagai masalah krusial bangsa. Sedangkan kekayaan sumber daya alam di Indonesia tidak pernah bisa dinikmati secara signifikan untuk kemakmuran rakyat kecil, karena terlalu banyak yang tergadaikan kepada pihak asing.

Ancaman Globalisasi
Pancasila mestinya diperlakukan sebagai ideologi negara. Namun pada masa Orde Baru diubah menjadi ideologi rezim sekaligus menjadi sebuah mitos seperti melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober. Pancasila dikeramatkan sesuai tafsir tunggal para penguasa Pancasila mestinya diperlakukan sebagai ideologi negara. Namun pada masa Orde Baru diubah menjadi ideologi rezim sekaligus menjadi sebuah mitos seperti melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober. Pancasila dikeramatkan sesuai tafsir tunggal para penguasa untuk kepentingan dan kelangsungan pemerintahan Orde Baru.
Pancasila yang dimitoskan itu cukup efektif untuk membangun kekuatan politik maupun kekuasaan. Rakyat dibuat tunduk dan patuh tanpa reserve kepada rezim yang berkuasa, namun para penguasa semakin jauh dari pengamalan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya pemerintahan kita menjadi otoriter, korup, despotis, hipokrit dan terseret arus globalisasi.
Arus globalisasi tampak sebagai proses ideologisasi baru. Daniel Bell, dalam karyanya The End of Ideology, mengungkapkan bahwa ekses globalisasi biasanya disertai politik endism, yakni sebuah tesis tentang matinya ideologi besar dunia akibat gerusan kapitalisme. Kapitalisme dan neoliberalisme menyusup melalui politik endism.
Ideologisasi dalam nafas globalisasi merupakan bentuk paling konkret dari upaya untuk menamatkan ideologi besar lainnya. Hal ini dilakukan untuk memperlancar tercapainya segala kepentingan negara kapitalis. Meskipun kita tidak menginginkannya, tetapi menurut prediksi politik endism, tidak mustahil Pancasila akhirnya akan mati karena gerusan globalisasi akibat kelemahan anak bangsa dan pemimpin kita dalam merespons berbagai godaan global.

Makin berkembang paham yang bertentangan dengan Pancasila. Belakangan ini terlihat munculnya kembali ideologi yang bersifat imperial-global seperti Neoliberalisme/Kapitalisme, Khilafahisme, American Evangelism serta New Left. Ideologi ini direspon oleh menguatnya fenomena fundamentalisme-radikalisme yang secara ekstrim termanifestasi dalam terorisme. Berbagai warna ideologis tersebut berpotensi destruktif terhadap Pancasila, keamanan nasional dan keutuhan bangsa. Lunturnya wawasan dan ethos kebangsaan. Setidaknya berdasarkan hasil penelitian sebuah lembaga konsultan asing dari AS yang diminta meneliti hal ini, disimpulkan telah terjadi kelunturan semangat dan wawasan kebangsaan yang cukup luas khususnya di kalangan generasi muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: