Oleh: kfcngalah | November 4, 2009

Aku Ingin Menciumnya Sekali Saja…!!!

Tiba-tiba aku teringat bapak.

Dan, ingatan itu menjadi sesuatu yang aneh bagiku. Sebab bulan-bulan ini bayangan bapak jarang singgah di alam pikiranku. Otak ku dan segala isinya nyaris seperti kereta dengan gerbong panjang mengular penuh sesak, namun teramat jarang mengangkut wajah seorang bapak. Bapak sedang apakah dia ?

Barang kali sedang menikmati udara pagi sambil menonton berita di televisi yang belum tentu ia pahami apa maksudnya? Atau mungkin sedang bercanda bersama rizki anak sulungnya yang tak lain adalah adik kandungku. Bapak pernah mengatakan bahwa ia ingin rizki punya teman, karena aku akan pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren sekaligus sekolah disana. Meninggalkan desa yang selalu harum menjelang musim kopi. Harum bunga kopi, harum yang menakutkan jika kita lewat ladang sendirian di tengah malam. Tapi, bapak tidak pernah takut, sebab kebun kopi adalah sebagai penopang hidup keluarga.

Aku tak melupakan bapak, tetapi aku sangat jarang mengingatnya dalam waktu yang lama. Entahlah aku juga tidak tahu mengapa pagi ini ingatanku selalu terbayang wajah bapak, bahkan mambawaku pada kenangan masa silam.

Apakah ini suatu pertanda? Seorang teman pernah menunjukkan pada suatu teori yang waktu itu tak dapat aku percayai. Yakni, bila kamu sedang memikirkan orang itu berarti orang itu sedang memikirkan kamu. “Kebenarannya sangat tipis” demikian aku mengatakan itu, “memang, tapi suatu hal ini benar” kata temanku” tak memaksa aku percaya kata-kata itu masih terekam di memoriku sampai sekarang. Jika aku tiba-tiba berpikir tentang bapak apakah hal itu disebabkan karena disuatu tempat yang jauh bapak sedang memikirkan aku, bapak sedang mengingat aku, apakah bapak ingat aku ?

Dia adalah wajah yang dekat, namun tidak bisa ku cium. Meski dia yang menanam benih dirahim ibuku sehingga menjadi aku, kakak-kakakku dan adik-adikku, aku merasa ada hijab. Apakah karena anakmu ini perempuan sementara engkau laki-laki sehingga kita tetap berjarak, bapak? Waktupun terus berjalan dan membuat diriku tumbuh menjadi seorang remaja. “Kamu ayu nduk….” pujian kadang muncul dari lisan, ibuku dan beberapa tetanggaku. Tetapi tidak pernah terucap dari bapakku. Satu pujian yang dapat ku ingat hanyalah ketika bapak memasang jepit kupu-kupu, tangannya yang terbiasa memegang cangkul ternyata bisa menancapkan besi tipis dengan mabis dirambutku yang ikal.

Bapak tidak menciumku, ia hanya memandangku lalu menepuk pipiku yang bulat. Tak sepatah katapun keluar dari lisan bapak. Namun, aku bisa  melihat senyum syukur diwajah beliau. “Terima kasih Tuhan, aku dikaruniai putri yang cantik….” aku tersenyum dan berlari ke halaman, hanya sekali itu aku mendapatkan pujian dari bapak.

Ketika kecil, beberapa anak laki-laki sering mencubit pipiku, yang kurang ajar mengintai di kolong meja menggunakaan pensil bundar berkaca untuk melihat warna celana dalam ku. Mereka bergembira jika berteriak “biru, kuning, merah atau bahkan kembang-kembang.” aku pun marah, aku kejar mereka sampai ke belakang sekolah, aku masih ingat, di belakang sekolah ada kolam ikan dan salah seorang diantara mereka aku dorong hingga tercebur hingga basah kuyup dan menjadi bahan tertawaan teman-teman sekelas.

Ku dengar bulan lalu, yakni terakhir kali aku menelpon kakakku untuk menanyakan keadaan di rumah, katanya bapak jatuh terpeleset jatuh saat pulang dari ladang. ”Tidak parah, tak usah terlalu dipikirkan“ kata kakakku. Dan entahlah aku memang tak terlalu memikirkanya. Urusan sekolah dan kegiatan-kegiatan di pondok pesantren cukup menyesaki jalan pikiranku. tak dapat disangakal ingatan yang datang tiba-tiba membuat gelisah pikiranku dan membuat sepotong kegelisahan bertunas. Begitu cepat rasa gelisah itu tumbuh, dari tunas menjadi batang, dari batang tumbuh ranting, dari ranting keluar buah, lantas buah itu terasa sesak memenuhi rongga hati dan pikiranku. Ingatan seseorang yang berumur lanjut sering melukiskan warna hitam, kematian.

Dadaku pun sesak, mengapa pikiran itu terlintas ketika tak ingin aku sediakan ruang baginya. Jika itu benar terjadi? Ah ya, kematian memang takdir yang tidak bisa ditolak. Tapi wahai maut jangan kau jemput bapakku dalam waktu dekat ini . Bapak memang bukan lelaki yang akrab, bukan lelaki yang dekat, tetapi bapak tetaplah bapakku. Bapak dari kakak-kakakku dan adik-adikku, juga suami ibuku. Tiba-tiba aku sangat ingin pulang, menempuh perjalanan panjang untuk bertemu dengan bapak, jika memang benar Tuhan telah berkehendak untuk memanggilnya, aku ingin menciumnya meski hanya sekali saja. Saatnya pun tiba ketika aku boleh menciumnya, namun ini bukan pengabulan dari do’a yang sempat aku panjatkan, sebab wajah bapak telah dingin, kematian tidak menyisakan kehangatan wajah bapak untukku yang sempat kupanjatkan saat perjalanan pulang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: