Oleh: kfcngalah | Desember 10, 2009

HANACARAKA : PENGABADIAN KONSEP KECERDASAN HOLISTIK

HANACARAKA : PENGABADIAN KONSEP KECERDASAN HOLISTIK Mencari Makna ”Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” (2) Pada posting yang lalu, pada akhir tulisan, saya membuat hipotesis bahwa konsep cerdas atau kecerdasan dalam Alinea Ketiga Mukadimah UUD 1945 memiliki akar yang dalam pada sebuah warisan (heritage) bangsa yang mungkin berumur ribuan tahun. Saya tidak akan membahas konsep kecerdasan dari sisi peristilahan (glossary) tetapi lebih bersifat pemikiran-pemikiran deduktif-analitis. Bahwa saat ini kita telah mengenal konsep kecerdasan yang semakin lengkap dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Dipahami, bahwa ”sesuatu” yang menyebabkan orang lebih sukses satu dari yang lain adalah IQ atau intelectual quotient, yang ditemukan oleh Alfred Binnet (Perancis) pada akhir abad 19 (awal abad 20). Metode Binnet ini diciptakan atas permintaan Pemerintah Perancis untuk mendapatkan tentara-tentara pilihan dan tangguh, yang kemudian dipergunakan atau diaplikasikan untuk tes (menyaring) penerimaan tentara. Dari pengalaman ini Tes IQ Binnet kemudian dikembangkan untuk bidang-bidang yang lain, misalnya di dunia usaha/industri, bahkan hingga akhir 1970 dan 80-an. Perkembangan berikutnya, setelah makin dikenalnya struktur otak dan belahan otak (otak kiri dan otak kanan), diantaranya oleh Roger Sperry seorang pemenang Hadiah Nobel (Nobel Prize), konsep kecerdasan pun berkembang, misalnya muncul kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence) dari Howard Gardner melalui bukunya Frame of Mind yang sangat terkenal, kemudian ada Adversity Quotient, dan seterusnya. Tapi yang paling fenomenal dan menghebohkan adalah munculnya buku Emotional Intelligence (EI) dari Daniel Goleman di tahun 80-an. Daniel Goleman juga mendasarakan kajiannya pada neuroscience, khususnya yang terkait dengan struktur otak dan kompetensinya. Daniel Goleman mengkaji peran Lymbic System sebagai organ otak yang paling berperan dalam mengatur dan mengelola emosi seseorang. Daniel Goleman kemudian merumuskan kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengelola dan mengendalikan emosi. Semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin baik kemampuan orang itu dalam mengendalikan emosi, dan tentu saja orang yang seperti ini memiliki peluang sukses lebih besar dari pada orang lain yang lebih rendah EQ-nya. Bahkan diklaim, EQ memainkan peran sebesar 88% keberhasilan seseorang, dan 12% sisanya adalah peran IQ. Kurang lebih 1 dekade berikutnya, muncul pula konsep kecerdasan yang tidak pernah diduga sebelumnya karena dianggap tidak ilmiah atau tidak rasional. Kecerdasan itu adalah kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Pencetusnya adalah Dannah Johar dan Ian Marshall yang mempublikasikan buku SQ nya untuk pertama kali pada tahun 2000. Dannah Johar dan Ian Marshall mendasarkan studinya pada observasinya pada kehidupan para Lama di Tibet, dan juga perkembangan neuroscience pula, terutama ditemukannya God Spot (Titik Tuhan) oleh V. Ramachandran, dan kawan-kawan. Dalam konsepnya, Dannah Johar mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kemampuan memberikan nilai atau makna terhadap kehidupan sehingga seseorang itu memiliki alasan yang kuat untuk apa dia hidup. Seseorang yang mampu menyandarkan hidup pada nilai atau makna kehidupan, maka orang itu memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dan survive. Dalam sudut pandang ini, dengan sendirinya orang itu memiliki kecenderungan akan lebih kreatif di banding orang yang tidak bersandar pada nilai kehidupan. Memahami hal ini, diantara kita sering menyaksikan banyak orang justru menemukan ”jalan” saat kepepet atau mengalami kesulitan. Bahkan, saking percayanya, ada buku yang membahas tentang ”The Power of Kepepet”. Orang yang kepepet, dan dia tidak putusa asa, menurut buku ini, justru berada pada kondisi paling kreatif sehingga masih mampu melihat pelita-pelita dalam kegelapan. Itulah kekuatan dari SQ. Belakangan Dannah Johar dan Ian Marshall mengembangkan SQ-nya dengan menulis buku yang berjudul Spiritual Capital (Modal Spiritual). Dalam buku ini dibahas tentang bahwa orang yang berbuat baik, bersedekah, memperhatikan lingkungan, mengutamakan kepuasan konsumen, dan seterusnya, sesungguhnya orang itu sedang memupuk sebuah modal spiritual, yang akan sangat berguna baginya di masa depan. Artinya orang yang memiliki modal spiritual lebih banyak, di masa depan lebih survive dibanding yang modal spiritualnya kecil. Dan untuk menambah ‘pundi-pundi’ modal spiritual tadi, tidak ada lain cara kecuali seseorang harus berbuat baik, beramal baik, berpikiran baik (positif), dan berperasaan baik (positif). Nah, dari gambaran tersebut, kita telah mengetahui secara sepintas tentang adanya 3 kecerdasan, yakni IQ, EQ dan SQ. Yang jadi persoalan, lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini di atas? Mudah-mudahan Anda tidak kaget. Bahwa pencarian orang barat selama 100 tahun itu, ternyata telah tersimpan dan terabadikan dalam huruf hanacaraka, huruf Jawa yang berumur ribuan tahun. Kaget? Oh ya? Ah, yang benar? Mungkin itu respon Anda. Tidak apa-apa karena saya dulu juga terkaget-kaget pada awalnya. Dan saya akan menunjukkannya pada Anda dimana letak kebenarannya. Kita tahu Hanacaraka adalah huruf Jawa yang terdiri dari 20 huruf seperti nampak sebagai berikut : Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Da Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga Saya tidak akan mengupas makna huruf Jawa tersebut satu per satu di sini. Tetapi saya akan membahas baris pertama saja, yakni ha na ca ra ka. Makna huruf-huruf pada baris pertama ini adalah sebagai berikut : hana = ada ca = cipta ra = rasa ka = karsa Sehingga, kalau digabung, maknanya menjadi ada cipta rasa dan karsa. Terjemahan yang terpublikasi di sekolah-sekolah (SD/SMP) di Jawa (Timur dan Tengah), hanacaraka diartikan dengan hana (ada) dan caraka (utusan/duta) atau ada utusan. Kedua arti ini tidak berbeda, karena arti caraka adalah manusia, dan di dalam diri manusia ada cipta, rasa dan karsa tadi. Kalau kita hubungkan dengan konsep-konsep kecerdasan yang kita bahas sebelumnya, kita akan mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Makna Cipta sesungguhnya identik dengan IQ, kemudian makna Rasa identik dengan EQ, dan makna Karsa (kehendak, gagasan, ide) identik dengan SQ. Mengapa bisa begitu? Ya, coba kita perhatikan hal ini. IQ atau kecerdasan intelektual apabila kita pelajari pengetahuan otak kita, sesungguhnya merupakan kecerdasan yang terkait dengan kompetensi otak kiri, yakni bahasa, logika, matematika/bilangan, sequensial, dan analitik. Sementara cipta, dalam konsep hanacaraka adalah sebuah proses ’mengadakan’ sesuatu yang sebelumnya tidak/belum ada menjadi ada. Dalam mencipta ini, tentu saja sebagaimana kita tahu adalah proses mengolah sesuatu sesuai dengan standar yang telah ditentukan melalui suatu urut-urutan (sequensial) proses hingga jadilah sesuatu yang diinginkan. Dari pengertian ini dapatlah disimpulkan bahwa IQ identik atau sama dengan Cipta. EQ atau kecerdasan emosional, jelas sekali itu terkait dengan Rasa (feeling). Feeling terkait dengan emosi. Saya pikir, kita akan sangat mudah sekali mengenali kalau EQ ini tidak berbeda jauh dengan makna Rasa. Di kalangan orang Jawa, dikenal istilah sing iso rumongso (yang bisa merasa), ojo rumongso iso (jangan merasa bisa). Makna yang pertama adalah orang yang mampu mengendalikan diri, sementara makna yang kedua adalah orang yang sombong karena merasa bisa (padahal tidak bisa). Dalam pengertian ini, kita dapat menyimpulkan bahwa EQ identik atau sama dengan Rasa. SQ atau kecerdasan spiritual, dalam konsepnya adalah sumber dari survivalnya dan kreativitas dari seseorang. Dengan SQ yang tinggi seseorang akan mampu dan sabar untuk bertahan serta kaya akan ide/gagasan, alternatif, keingingan, kehendak atau ……. KARSA. Karsa sendiri berarti berkehendak. Orang yang kaya dengan karsa adalah orang yang kreatif. Orang yang kreatif adalah orang yang senantiasa mencari alternatif-alternatif terhadap apapun keadaan atau masalah yang sedang dihadapinya. Itulah makna inti dari spiritual quotient. Dalam pengertian ini, kita juga telah mendapatkan pengertian yang sama antara Spiritual Quotient dan Karsa. Nah? Ya, itulah gambaran yang dapat kita peroleh, ternyata dalam khazanah leluhur ternyata terkandung nilai-nilai dan mutiara-mutiara yang cemerlang dan luar biasa. Barangkali inilah yang dipahami oleh para perumus Mukadimah UUD 1945 yang juga founding fathers/mothers bangsa Indonesia. Mungkin terkesan agak apologis atau romantisme sejarah. Pada awalnya memang benar, dan saya pikir wajar, karena adanya kenyataan ini. Tetapi, meski demikian, kita sepakat bahwa berbangga hati dengan masa lalu tidaklah cukup. Kita hidup pada dunia dan menghadapi persoalan yang berbeda. Leluhur kita hebat pada jamannya. Dan tentunya kita sendiri juga harus hebat di jaman kita ini, yang dengan sendirinya memerlukan perjuangan yang keras dan cerdas. Namun, dengan pengetahuan ini, setidaknya kita memiliki modal yang cukup dan semakin mengerti tentang manusia dan potensinya. Yang jelas, kita harus bersepakat bahwa kita tidak boleh kalah dengan leluhur kita. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah generasi yang juga memiliki kehebatan-kehebatan kita sendiri dengan berkarya dan berkreasi untuk negeri dan umat manusia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: