Oleh: kfcngalah | Desember 10, 2009

KECERDASAN DAN ALINEA III PEMBUKAAN UUD 1945

Bagus Taruno Legowo
Mencari Makna “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Sebelum saya membahas apakah kecerdasan itu, saya ingin mengutip Alinea ketiga Mukadimah UUD 1945 yang berbunyi :

“Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya dengan membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Alinea ketiga ini membahas tentang tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia. Bandingkan dengan Alinea keempat yang membahas tentang dasar dari negara. Jadi ada perbedaan yang tegas tetapi saling menguatkan.

Mari perhatian kita tujukan pada ungkapan mencerdaskan kehidupan bangsa (MKB) sebagai salah satu tujuan bernegara. MKB ini menurut saya sangat menarik untuk dicermati, sebab rumusan tujuan bernegara ini sampai hari ini belum dibahas secara serius. Mungkin Anda semua sama dengan saya, memangnya ada apa dengan MKB ini? Saya bertanya-tanya dalam hati apa maksud dari mencerdaskan kehidupan bangsa? Mengapa kita perlu mencerdaskan kehidupan bangsa? Lalu, bagaimana caranya?

Selama ini, kalimat MKB ini luput dari perhatian kita. Sementara kita semua bahkan pemerintah, mengabaikan tujuan bernegara ini, dan menerjemahkannya secara simplistis bahwa negara menyelenggarakan pendidikan, mengadakan guru, beserta fasilitasnya semata. Bahwa memang benar penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh anak bangsa itu perlu, karena ini adalah ”hardware” dari sebuah sistem pendidikan. Tetapi tidak kalah pentingnya adalah aspek metodologis atau ”software” dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini yang perlu menjadi perhatian untuk dikaji dan dikembangkan tentang apa makna yang ada di dalam MKB itu.

Saya menangkap suatu nilai yang sangat esensial dalam ungkapan MKB itu. Saya cukup merasa takjub dan kemudian bertanya, apakah perumus kalimat ini yang sangat brilian atau ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Saya merasa ada yang tersembunyi dalam kalimat MKB itu dan nampaknya perlu diungkap. Bagaimana bisa terumuskan begitu mendalam seperti itu? Bahwa mungkin benar ada campur tangan Tuhan dalam kebrilyanan para perumus Mukadimah UUD 1945 itu, sehingga nampak mutualistiknya. Tetapi yang jelas MKB ini sungguh sebuah kalimat yang indah dan penuh makna.

Saya yakin, cerdas dalam kalimat MKB yang dimaksud bukanlah cerdas dalam arti intelektualitas atau kognitif semata. Tentu ada muatan cerdas yang lain. Jika benar demikian, itu berarti sesungguhnya para perumus UUD 1945 itu mendahului jamannya, karena saat konsep Mukadimah UUD 1945 dibuat sampai dengan dekade 70 dan 80-an, konsep kecerdasan yang dikenal adalah konsep kecerdasan intelektual (IQ). Sementara Emotional Quotient (EQ) muncul pada akhir 80-an oleh Daniel Goleman, dan Spiritual Quotient (SQ) pada 90-an oleh Dannah Johar dan Ian Marshall, atau Multiple Intelligence nya Howard Gardner yang muncul pada 1970-an dalam bukunya Frame of Mind.

Coba perhatikan, dalam MKB ini, ada 2 kata kunci yang menarik untuk direnungkan, yakni cerdas dan hidup. Apa makna penggabungan cerdas dan hidup ini memiliki makna tertentu? Kita tahu bahwa hidup itu multidimensi. Hidup begitu kompleks, didalamnya ada persoalan-persoalan yang juga kompleks, seperti misalnya pemenuhan kebutuhan biologis, cinta, pergaulan, seni, science dan teknologi, politik, ekonomi, dan bermacam-macam lagi yang lain, yang jelas sekali banyak yang tidak membutuhkan atau bergantung pada intelektualitas saja.

Dalam konteks ini, hidup, dengan sangat brilian oleh para perumus UUD 1945 dihubungkan dengan cerdas. Sehingga makna sederhana yang bisa kita peroleh dengan menggabungkan cerdas dan hidup ini, sebagaimana terumuskan menjadi MKB, adalah bahwa dalam menjalani kehidupan yang begitu multidimensi dan kompleks ini dibutuhkan oleh setiap orang suatu kecerdasan yang serba meliputi dan merupakan kemampuan yang bersifat inhern dan given ada pada setiap orang.

Lalu, kalau begitu apa arti cerdas? Cerdas sesungguhnya dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan yang ada pada seseorang dimana seseorang dengan kemampuan itu mampu memecahkan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Karena sebuah kemampuan, maka cerdas bukanlah sesuatu yang permanen. Kecerdasan dapat diasah dan dipupuk, berkembang, dan mencapai puncak kecerdasan tertingginya yang berbeda untuk setiap orang.

Para perumus UUD 1945 mungkin merasa bahwa kecerdasan intelektual/kognitif tidaklah cukup, sebab manusia terkadang dan bahkan sering tidak menggunakan intelektualitasnya dalam menjalani hidupnya. Sebagai contoh, ketika Anda sedang jatuh cinta apakah Anda mengukur segala sesuatu dengan intelektualitas Anda? Mengapa banyak orang justru tidak mau menggunakan intelektualitasnya saat mengalami jatuh cinta, bahkan beberapa diantara kita melakukan banyak sekali ”kegilaan-kegilaan” atau perilaku-perilaku yang tidak masuk akal (irasional)? Atau ketika sedang bernegosiasi atau bermusyawarah, keputusan-keputusan yang diambil pun sering kali tidak menggunakan standar menang kalah, atau benar salah, tetapi win-win solution, dimana kita menyebutnya dengan kebijaksanaan.

Nah, oleh karena itu, kita perlu mengkaji konsep cerdas yang termaktup dalam Mukadimah UUD 1945 ini agar menjadi lebih jelas dan lebih applicable. Konsep MKB ini bukan konsep mengada-ada. Konsep MKB ini pasti memiliki akar yang dalam, bahkan mungkin disinilah terletak kunci dari bagaimana menuju Indonesia cerdas. Dalam topik-topik ke depan saya akan mencoba menuliskannya untuk Anda semua, mudah-mudahan dapat membuka cakrawala berpikir kita semua dan mengawali Gerakan Menuju Indonesia Cerdas. Karena saat inilah momentumnya yang tepat.
Bagaimana menurut Anda?


Responses

  1. trima ksih ya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: